Saya Berhenti

Saya berhenti

Membuang banyak dari penuh

Untuk kembali mengisi.

Saya berhenti.

Menghanguskan buku yang hampir rampung

Untuk kembali menulis.

* * * *

Bismillah. Assalamu’alaikum wahai pembaca.

Segala puji bagi Allah Azza wa Jalla yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang dan yang Menguasai Hari Pembalasan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memberi kita taufik serta petunjuk untuk terus berada di jalan-Nya. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita kekuatan untuk selalu menjalankan perintah-perintah-Nya sampai akhir; sampai maut menghampiri. Aamiin.

Tak lupa shalawat dan salam untuk Baginda Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk keluarga Beliau, istri-istri Beliau, putra putri Beliau dan untuk seluruh sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhu.

Alhamdulillah, sampai detik ini Allah Azza Wa Jalla masih memberi waktu, juga kesehatan dan kemampuan berpikir bagi saya untuk hadir lagi namun bukan kembali. Saya datang lagi di sini, menuangkan abjad berserta doa agar para pembaca mengerti, dan insya Allah mengikuti.

Anda tidak perlu waspada ataupun takut hingga langsung menutup laman ini. Sesungguhnya saya hanya bercerita tentang saya dan pribadi, dan mengapa saya berhenti, juga mengapa ini terhenti dan terganti, tanpa bermaksud menggurui atau mempengaruhi. Sejatinya hanya Allah-lah yang dapat memutarbalikan hati.

Inilah saya bersama perjalanan untuk PINDAH.

Manusia adalah makhluk sempurna. Dibanding ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain, manusia menempati posisi juara. Manusia diberi kehendak bebas untuk menyusuri jalan yang ia pilih. Jalan kebinasaankah atau jalan menuju Allah Azza wa Jalla.

Di waktu belia, tatkala gigitan semut rangrang saja sudah mampu menganak sungaikan mata, saya hanya mampu berpikir, ‘bekal apa besok yang Ibu siapkan untuk saya?’, ‘dengan siapa besok saya bermain jungkat jungkit?, ‘apa besok jam pulang dipercepat?’.

Pertanyaan-pertanyaan khas anak kecil yang hadir karena rutinitas tersebutlah yang selalu mengisi otak saya. Namun saya memaklumi. Kala itu kapasitas diri, otak kiri, hati tentu belum cukup untuk menerjemah perkara mana yang lebih dulu; ayam atau telur. Batas saya hanya mampu mengenal Tuhan dalam bentuk impersonal; saat lebaran dan makan gulai sampai kata puas saya tuai.

Tak pernah saya menangkap Tuhan secara pribadi. Terlebih saya kecil menetap di daerah yang mayoritas nasarah. Saya pernah ikut paskah, dan sempat hafal beberapa lagu rohani milik mereka. Toleransi berakar kuat di tengah masyarakat tempat tinggal saya dulu. Sehingga tidak ada pengkotak-kotakan ras, suku terlebih agama.

Hingga umur 6 tahun saya pindah. Menetap di tempat yang indah dan Alhamdullilah, para tetangga adalah penganut keyakinan yang sama. Namun kesibukan orang tua mencari nafkah dan kecanduan saya tertawa bersama teman-teman sebaya membuat saya lagi-lagi jauh dari Sang Pencipta. Tuhan tetap saya kunjungi dalam intensitas yang teramat sedikit. Sampai waktu silih berganti ambil giliran.

Memasuki remaja. Dunia kaula muda. Tatkala demam Bieber mewabah. Saya sudah pintar shalat. Bahkan kadang lima waktu rutin saya kerjakan. Namun hanya sebatas itu. Selebihnya saya sibuk gaul. Sibuk download, sibuk nonton, sibuk dengar musik dan sibuk-sibuk yang lain. Saya sibuk dengan perkara yang sia-sia. Namun saya masih maklum.

Remaja adalah masa transisi. Di mana saya sudah melihat kerangka kerja serta prospek masa depan. Di mana saya mulai mejaga imun serta otak sekaligus untuk bertahan dan berkembang di jalur yang saya inginkan. Maka saya maklum jika sibuk menjadi teman setia. Saya harus sibuk dengan apapun agar nantinya dapat siap sibuk dengan satu hal. Hingga waktu berlanjut lagi. Terus dan terus.

Sampai dewasa meraja. Tatkala kesalahan pemerintah sebiji kurma sudah mendatangkan murka saya seair bah. Si kolot; si manusia ortodoks; si konservatif yang menjelma menjadi masyarakat hedonis, demokratis dan bebas. Saya mengecap semuanya dengan mengikatkan diri pada lembaga organisasi kampus dan atas nama persaudaraan. Menuntut terlalu banyak dari yang layak diterima. Meliput dan paling keras mengutuk-ngutuk.

Pengetahuan saya yang terlalu sedikit saya gembar-gembor demi mencapai sebuah eksistensi; dipuji. Iming-iming koneksi, pembentukan diri, masa depan hingga ekonomi mampu membuat saya menjadi manusia moderen yang berpikir agama tidak boleh mengekang hak-hak perempuan untuk bersuara, berkarya bahkan bermimpi.

‘Don’t judge a book by it’s cover’, menjadi slogan abadi. Saya berpikir, semua orang sama. Laki-laki, perempuan, homo, konglomerat, tukang ojek, dokter, tunawisma, sampai priyayi. Semua sama. Pembedanya hanya terletak pada kualitas diri masing-masing. Si perempuan yang begitu getolnya menyuarakan era keterbukaan di setiap lini kehidupan, menjunjung tinggi ilmu pengetahuan serta kebebasan berpikir, meski hanya seorang tukang sapu jalanan akan lebih tinggi derajatnya dari lelaki yang cuma sibuk memenuhi kehidupannya sehari-hari dengan penghasilan yang monoton tanpa peduli adanya pergolakan dan ekonomi yang timpang, tanpa peduli adanya perubahaan.

Saya tidak keberatan dengan tampilan gerobak sampah. Tidak ambil pusing dengan tindikan dari ujung kaki ke kepala. Terserah dengan seni rajah menutupi wajah. Bagi saya, karya dunia, kualitas dari karya dunia, dan kerja keras menjadi barometer manusia berada dalam kotaknya. Dari kotak kardus bekas kulkas sampai kotak keras dari emas.

Pemikiran-pemikiran seperti itu yang terus menerus menggerogoti di masa kuliah. Tapi pemakluman kembali hadir. Saya maklum. Kala itu saya seorang siswa yang bergelar maha. Saya generasi muda pembentuk dunia. Saya deteminan penerus umat. Saya paling paham seluk beluk penyebab stagnasi perputaran roda pengetahuan. Maka saya maklum. Dan mungkin akan selalu maklum, jika Allah tidak berkehendak lain.

Alhamdulillah, atas izin Allah Azza wa Jalla, pemahaman itu berakhir. Dan sungguh durhaka saya. Mahabesar Allah.

Ilmu setahi upil begitu saya agungkan. Ilmu sebesar zarah menjadikan pemakluman terbesit di hati dan keluar di lisan. Segala pemahaman yang mengatasnamakan manusia maju malah semakin keterbelakangan.

Mengulang buku saya di waktu lalu amat banyak tersisip kemungkaran, kezaliman, kemunafikan. Saya bangun di atas lafal paling benar dan paling berjaya. Padahal justru paling merah dan rendah. Mimpi, cita-cita, cinta dan hidup saya balut dengan kebebasan berpikir demi terciptanya manusia kontemporer. Di mana barometer saya hanya terletak pada emansipasi dan globalisasi; Moderenitas. Agama di urutan sekian koma sekian.

Sang Pencipta terlupa. Meski Ia tetap dengan Kemahabesaran-Nya.

Setan begitu keras merongrong untuk luput mengingat Kemurahan-Nya. Saya yang dicipta. Diberi indera. Ditiupkan ruh. Dianugerahkan laba. Diperkenalkan rasa dan menjalin kasih sayang bersama cinta. Tidak pernah berkurang sesuatu. Jikalau gundah berkunjung, Ia telah menyiapkan tawa di ujung.

Sungguh, begitu dahsyat Allah menyiapkan semuanya. Diberi-Nya masing-masing ciptaan-Nya kelezatan dunia. Disantuni dengan rezeki yang melipah. Ditangguhkan waktu dan kesempatan. Disehatkan tubuh dan pikiran. Disisipkan akal dan kemampuan. Dipasangkan satu (lelaki) dan lainnya (wanita). Dan dititipkan putra putri dan dianugerahi rasa sayang antara keduanya.

Begitu luas dan terperinci kekuasaan-Nya. Begitu cantik dan sempurna karya-Nya. Begitu banyak pemberian-Nya. Namun mengapa masih saja saya menutup mata.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (Ali Imran: 190)

Akal yang disisipkan Allah untuk saya, seharusnya menjadi aparatus pencetus, di mana saya bisa memilah, mana darah dan mana nanah. Bahkan Allah Azza wa Jalla menjadikan akal sebagai tempat bergantungnya hukum, sehingga manusia yang tidak berakal tidak dibebani hukuman.

Namun sejatinya, akal yang tersisip pada makhluk maka ia akan lemah dan penuh keterbatasan. Saya yang memuliakan akal pada segala hal, tapi tidak menuangkan ke dalam jalur yang benar. Saya malah mempergunakannya semena-mena. Bahkan, dengannya saya merasa agama terlalu kuno dan tahayul semata.

Hingga saya sadar, ke mana saya selama ini.

…..

Saya ke sana.

Ke germerlapnya dunia. Ke tempat di mana suara adzan tak tertangkap. Ke wadah di mana pria wanita bercampur baur tanpa jarak. Ke sarang waktu berpesta pora yang tak pernah senyap. Ke hidup yang bebas tanpa syariat yang membebat begitu erat.

Ke sanalah saya. Berlari sejauh yang saya bisa. Berlari sebisa saya ke Neraka.

Selama ini, saya termakan bisik-bisik setan yang saya anut dan saya pahami seperti memahami diri sendiri. Dari usia belia sampai dewasa saya lahap dalam semesta yang gegap gempita. Dengan aksi yang menyala; ‘hidup itu cuman satu kali, jadi kenapa gak dinikmatin aja sih’.

Begitu dalam saya terjerumus, hingga sulit rasanya keluar. Namun sejatinya karena saya enggan keluar. Perkara-perkara yang menjunjung dunia, masih menjadi sahabat akrab; teman sepermainan. Mereka bagi ruh dalam tubuh, sehingga sulit rasanya berpisah.

Semua hingar bingar sungguh menarik untuk disembah sujud, saya akui itu. Hingga saya setia merasa dan mendengarkan. Tak terbebani, karena hidup yang hanya sebentar saya jadikan pegangan agar dihabiskan untuk hal yang tidak mempersulit diri; yang tidak memberatkan.

Maka habislah waktu saya dengan sia-sia. Tenaga terbuang percuma. Uang lenyap tanpa tahu ke mana. Tak pernah saya gunakan semua itu untuk menambah intensitas berkunjung pada Pencipta; yang sedari dulu saya temui seperti bersua dua hari raya.

Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 20)

Saya jatuh bangun mencintai dunia; tak ingin lepas. Sehingga agama saya jual dengan harga murah, hanya untuk dunia dengan balutan kesenangannya. Tak semenitpun saya habiskan dengan perkara berguna. Rutinitas hanya terganti dari yang sia-sia, ke yang sia-sia lainnya. Hanya berubah tegangan, tergantung besaran hukum yang melekat. Tapi, toh tujuannya tetap sama, ke api yang menyala-nyala.

Paham-paham filsafat serta novel-novel yang saya telan bak permen kapas ternyata lama mengendap di dalam perut. Atau mungkin tersangkut di hati. Ia tidak larut karena liur ataupun dzat asam lain. Semuanya masuk bulat-bulat, tanpa tersaring.

Maka pengakuan dan pemahaman seorang muda yang saya pelajari dari jubelan buku sesat serta artikel dunia maya, menjadikan kerasnya hati. Sekeras safir dan ruby. Atau mungkin berlian yang hanya dapat tergores dengan dirinya sendiri. Cita-cita di kemas begitu apik untuk dipuja puji. Pencapaian demi pencapaian terus ditingkatkan demi terpenuhinya angan yang terlalu panjang.

Duhai celaka, saya ingin melanggar kodrat. Saya mengganggap wanita tidak boleh menjadi subordinat. Wanita tidak boleh menjadi ratu jika itu berkonotasi nomer dua. Wanita harus mendobrak tatanan yang ada. Wanita tidak boleh terpasung di tengah eksploitasi kaum Adam terhadapnya. Karena wanita, manusia.

Wanita menghirup molekul udara yang sama dengan pria. Wanita berpikir dengan otak kiri yang sama seperti pria. Broca area menjadi tempat pengolah bahasa yang sama dengan pria. Semua struktur tubuh berupa jatung, usus dua belas jari, hingga empedu juga sama seperti pria. Maka mengapa wanita dan pria harus berbeda?

Meski saya tahu akan satu hal, wanita adalah wanita, tidak akan pernah bisa menjadi pria. Hanya saja saya takut sendiri. Takut dibilang lemah. Takut dicap pengecut. Maka saya mengingkari.

Dengan akal lemah saya memegang teguh keberanian diri. Cita-cita saya bergolak menginginkan menjadi sejatinya manusia tanpa kunkungan gender serta aturan agama. Saya bisa menjadi apa saja selama saya bisa. Saya bisa menjadi apapun, selama saya mau. Saya hanya harus percaya pada diri sendiri. Saya hanya harus bisa meraba darimana dan sampai mana saya bisa percaya. Karena hanya saya sendirilah yang tahu diri saya. Seperti saya tahu karena tahu. Tanpa perlu bertanya alasannya.

Cita-cita duniawi menjadi tembok raksasa yang sulit diruntuhkan. Pengakuan serta penghargaan semakin menumpuk untuk dieksekusi sekaligus. Ekspektasi demi ekspektasi terus menguliti kulit. Sampai terkelupaslah penghalang yang melindungi daging dari matahari. Dan terbakarlah tubuh ini.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Hati seseorang yang sudah tua senantiasa muda dalam dua hal: kecintaan pada dunia dan panjang angan-angan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dunia dengan panggung hiburan yang berserakkan, sungguh membuai. Saya sulit menolak, dan terlalu lengah untuk itu. Musik, gaul, nongkrong dan seribu satu macam perkara yang melalaikan saya telan tanpa pernah ada kata selesai.

Semuanya seperti pil ekstasi yang jika tak saya teguk, saya bisa merasakan sakit sampai ke sum-sum tulang. Nikmatnya menagih. Dan tidak ada bahasa yang bisa menjelaskan bagaimana lezatnya tawa canda bumi. Hanya rasa yang dapat meraba betapa menyenangkannya ia. Betapa ia sulit untuk ditinggalkan dan diacuhkan. Betapa ia terlalu menggoda untuk dilewati.

EXO, Ikon, One Ok Rock, L’Arc~en~Ciel, Kimbra, First Aid Kit, Les Nubians, Frau, Pukul Tiga Pagi, Banda Neira dan sederet nama lain saya nikmati melebihi kebutuhan kalori per hari. Saya emut bagai permen hisap abadi. Tidak kadarluasa, tidak pun habis dimakan usia.

Dari hari ke hari daftar dengar itu terus melonjak. Menempati posisi juara; menggeser suara adzan di telinga. Tak ada hari tanpa musik, bahkan menjadi konsumsi wajib. Tak ada yang dapat menggantikan tempatnya di tangga paling atas. Kami bagai rekan sejawat. Atau bisa dibilang, belahan jiwa. Kami membaur layaknya air pada wadah. Tidak pernah cukup hanya ada saya tanpa dia. Dan betapa saya mengagguminya sebagai duplikat.

Hingga saya berani berikrar bahwasannya saya adalah abdi musik. Secara hiperbolis saya mengatakan dengan lantang bahwa musik adalah perikardium saya. Tanpanya jantung saya tak terkendali. Tanpanya saya bagai mulut tanpa lidah; tiada artinya.

Secara metafora saya mengadang-gadang bahwa sejatinya musik adalah penangkap rasa. Banyak perasaan baru saya tuai ketika mendengarkannya. saya bisa merasa apa saja, sekaligus membenci apa saja. Saya mengalami dan tidak pernah merasa seindah itu selain bersama dia.

Dan secara harfiah saya berujar dengan mantap bahwa musik adalah saya. Sungguh kuat perekat antara kami berdua. Sampai saya rasa, saya bisa jadi musik dan musik bisa jadi saya. Tidak ada dua kami; hanya satu. Maka jika ia hilang, saya hanya kepala tanpa rencana.

Hingga akhirnya musik menyusup ke pembuluh darah. Terus menerus menyelimuti apa yang dilaluinya. Tidak pelan-pelan tentu saja. Ia berlari serupa kereta super cepat. Hilang sekelebat. Tak bisa terdekteksi kapan lenyap. Hingga tekanannya naik, dan saya bergitu tergoda untuk ikut pecah dan mati seketika.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sungguh akan terjadi pada umatku, beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutra, minuman keras dan alat musik.” (HR al-Bukhari no. 5590) –pembahasan lebih lengkap di sini

Kini, dengan sepenuh keberanian saya berujar bahwa musik itu haram. Saya tahu banyak manusia yang tidak terima. Atau mungkin apatis dan biasa saja. Bahkan ada yang menghadirkan berbagai cara untuk melegalkannya. Seperti saya. Seperti saya yang mengira bahwa musik adalah kawan pertama. Sahabat lama yang tidak mungkin saya lepas begitu saja. Teman yang saya rasa paling mengerti dan paling tahu borok, kudis, kurapnya hidup saya. Rekan terbaik yang hinggap disegala suasana, di segala medan dan bencana. Pasangan yang begitu memikat untuk ditimang-timang; bagai morfin yang menenangkan. Tapi semakin tenang, semakin malang.

Tidak ada yang dapat mengganggu gugat. Saya adalah penikmat, maka saya tahu pasti bagaimana musik melumat. Di antara kenalan, saya yang paling akrab dengan musik. Semacam kloningan. Kami menempel bagai kerat di logam besi yang susah dipisahkan. Maka saya paling tahu. Paling kenal dan paling dekat.

Bagaimana nada-nadanya membuai indera. Bagaimana abjad demi abjad menjadi perantara untuk rasa yang katanya dapat berbahasa. Bagaimana dustanya meliputi tiap aksara. Bagaimana ia memainkan akal serta logika. Dan bagaimana ia melalaikan untuk mendengar ayat Allah.

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokkan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dan menyombongkan diri. Seolah-olah dia belum mendengarnya seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih. (Luqman: 6-7)

Atas nama kemajuan saya harus menempuh semua faktor agar mendapat pengakuan. Musik, gaul, ikhtilat, bahkan berkhalwat. Teman tongkrongan bisa dari mana saja, bebas gender. Bahkan kalau bisa saya menancap plang dengan stiker ‘Freedom Area” besar-besaran. Jika perlu se-gede baliho atau papan-papan iklan. Agar orang tahu saya tidak terikat pada apapun; pada siapapun.

Meski saya akui, sudah lama saya membalut tubuh dengan pakaian yang sedang tenar-tenarnya saat ini. Pakaian muslimah. Namun itu tidak membuat saya terbelenggu dan terkekang. Justru saya semakin buas, karena merasa menjujung perubahan tapi tidak meninggalkan kewajiban. Saya merasa derajat saya satu tingkat lebih tinggi di atas intitusi-intitusi wanita yang meneriakan slogan persamaan namun justru menginjak harga diri dalam-dalam. Mengeksploitasi keterbukaan atas nama kebebasan berekspresi. Buka sana buka sini. Semacam kamuflase untuk mengundang gegana-gegana ganas. Tinggal tunggu waktu saja kapan bomnya bablas.

Tapi faktanya begitu perih. Saya seperti luka yang diperasi jeruk nipis, tidak lupa ditambahi garam sedikit. Miris. Saya sejatinya yang dimaksud dalam sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

Dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, menyimpangkan (orang yang melihatnya), berlenggak-lenggok (jalannya), dan kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, bahkan tidak akan mencium aromanya, padahal aroma surga dapat dicium dari jarak sekian dan sekian… (HR. Muslim no. 2128)

Itulah gambaran masa depan. Naudzubillah. Saya memilih baju yang paling mentereng dan paling susah ditemukan. Saya memakai setelan dengan aksi gila-gilaan. Saya berpakaian tapi ternyata telanjang. Agar apa? Agar saya terlihat. Agar saya dilihat. Agar semua orang baik, laki dan perempuan bisa tahu, saya adalah pribadi bebas dengan kebebasan setinggi-tingginya. Tidak ada pasung dan belenggu. Tidak teman, orang tua atau konstitusi agama.

Meski lagi-lagi saya mengakui, selama ini kagum selalu menyeruak begitu saja ketika menangkap sosok wanita berbalut hijab sempurna sesuai syariat. Anggun menenangkan. Serupa salju di sahara yang membara. Begitu berani untuk sendirian.

Namun tanpa tedeng aling-aling saya dengan tegas mengatakan belum bisa. Masih banyak hal yang harus dimurnikan dulu sebelum melangkah lebih jauh. Menyucikan hati sebelum membentuk tampilan islami terdengar lebih benar. Menyicipi usia muda dengan gelora terbakar rasanya lebih pas ketimbang menghabiskan waktu dalam kajian dan teman-temannya. ‘Toh sudah berniat untuk berubah’, ‘butuh waktu untuk bertranformasi’, ‘pelan-pelan saja yang penting niatnya baik’, dan seribu satu pembenaran yang saya lemparkan ke permukaan. Saya tahu, memang semuanya butuh proses, dan proses butuh waktu, tapi waktu tidak akan pernah butuh proses.

Katakanlah kepada perempuan yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka, serta janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa tampak darinya. Hendaklah pula mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka dan tidak menampakkan perhiasan mereka selain kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan mereka, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (tidak bersyahwat) terhadap perempuan, atau anak laki-laki yang belum mengerti aurat perempuan. Dan janganlah mereka memukulkan kaki-kaki mereka agar diketahui (terdengar bunyi) perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (an-Nur: 30-31)

Semua kerancuan, penyimpangan saya dapat dari pergaulan; dari lingkungan. Namun tak sepatutnya pula saya menyalahkan zaman, teman maupun peradaban. Karena saya tahu dengan benar, bahwa saya yang bersedia di dalamnya; tanpa paksa.

Saya mengagung-agungkan mereka, para pemeluk dunia. Hobi, identitas, bahkan perilaku menjelma menjadi kloningan. Saya hanya berupa produk duplikat yang berkiblat ke barat. Meneriakan kebebasan namun justru terikat dengannya. Saya sama sekali tidak bebas. Saya hanya mencari semua hal berbeda, untuk kemudian mendoktrin orang-orang di sekeliling agar menyukainya. Tanpa pernah peduli mereka suka atau tidak. Dan tanpa saya sadari, ada orang-orang yang lebih kuat pengaruhnya di belakang saya yang mengantarkan saya pada hal yang sama. Entah saya suka maupun tidak.

Saya pecinta mereka, para ahli dunia. Memuja mereka bagai berhala. Mematikan waktu hanya untuk mendengar mereka berbicara. Menghilangkan rutinitas hanya untuk melihat mereka meliukkan badan tanpa arah. Dan jujur, sampai kini masih melekat kekaguman saya dan hati yang sama condongnya. Tapi saya terus berlatih. Terus memperbaiki diri. Saya tidak mau terjerumus dua kali.

Sungguh, kalian akan mengikuti jalan/jejak orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani –pen.) sejengkal dengan sejengkal dan sehasta dengan sehasta. Sampai-sampai jika mereka masuk ke liang binatang dhab (sejenik biawak yang hidup di padang pasir, -pen.) pasti kalian akan mengikutinya.” (HR. Abu Hurairah)

Sebenarnya semua ini hanya karena saya tak ingin hidup sia-sia. Hanya sepenggal waktu dhuha Allah menganugerahkan waktu-Nya. Maka kecelakan bagi saya jika tak menggunakannya dengan baik.

Dunia hanya bentuk uji coba. Atau lebih tepatnya ladang cocok tanam. Ada yang menanam durian, kelapa, sawi, wortel dan rambutan. Namun tidak pernah ada yang begitu bodoh untuk menanam bangkai dan menunggu hasil yang akan dituai kan? Tapi alangkah malangnya, ternyata orang-orang bodoh tersebut yang sekarang mendominasi dunia.

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)

Sebagian teman mungkin berpikir bahwa perubahan saya terlalu buru-buru. Tidak ragu. Tidak pilah pilih. Tidak pelan-pelan tapi pasti. Tidak butuh waktu untuk menguraikan diri. Namun, dari remaja hingga alay meraja lela pun sampai dewasa, waktu saya sudah basi percuma. Terbuang. Tanpa pernah berpikir saya habiskan untuk apa, bagaimana, dan dengan siapa. Dan waktupun tak pernah butuh waktu. Karena ia yang dibutuhkan. Ia yang meninggalkan. Ia akan berlari cepat secepat musang. Hingga saya si siput meratap di belakang. Jadi, masihkan harus ada kata tunggu? Ragu?

Sebagian lain akan bertanya-tanya. Kenapa ekstrim banget sama agama? Mbo ya biasa-biasa saja. Agama itu mudah jangan mempersulit diri. Ya, di beberapa titik antara hati dan urat nadi, apa yang saya jalani kini terkadang mencekik. Saya sulit. Namun keadaan terjepit itu hadir bukan karena susu yang saya pilih, tapi karena nila yang saya ambil. Agama akan mudah bagi hati-hati yang ikhlas. Sedangkan hawa nafsu menjadikannya senyata penjara. Mengekang. Ekstrem.

Dan sisanya akan menyayangkan. Saya akui, sungguh sayang rasanya melepas tempat ini. Tempat yang dulu saya rasa tempat terbaik untuk sembunyi, kabur dari gejolak-gejolak bumi. Banyak karya yang saya cipta. Banyak rasa yang saya tebar. Banyak cinta yang saya tuai.

Karena dulu hanya ada dua definisi untuk saya. Musik dan menulis. Achie adalah musik dan menulis. Tanpa keduanya Achie bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa. Dan susah rasanya meninggalkan mereka berdua. Para nila. Tapi kenyataannya saya juga bukan susu. Kertas saya sudah ternoda bahkan sejak awal. Jadi untuk menghapusnya bukan lagi dengan tipe x, cat atau segala benda berwarna sama. Cara satu-satunya adalah dirubah. Diganti. Dibuat baru. Namun untuk apa terganti jika masih sama dengan yang dulu.

“Tidak lolos anak cucu Adam dari pemeriksaan pada hari kiamat di sisi Tuhannya, sampai ia ditanyai tentang lima perkara. (1) Tentang umurnya, untuk apa ia habiskan, (2) Tentang masa mudanya, untuk apa ia pakai. (3) Hartanya, dari mana ia peroleh/. (4) Di mana dan bagaimana ia mepergunakannya. (5) Dan apa yang ia amalkan dari ilmu yang diketahuinya”. (HR. Tirmidzi)

Timbangan akan menunggu. Waktu terus memburu. Akhir terus mencari. Dan maut hanya tinggal menunggu untuk mengeksekusi.

Maka saya berhenti. Meski tidak sepenuhnya. Karena ada beberapa frasa yang masih bisa saya selamatkan, kemudian saya sematkan hingga nantinya saya tunjukkan. Dan biarlah sebagian besarnya saya lepaskan ke lautan; tenggelam.

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan sesuatu yang lebih baik.”

-Selamat Berpisah

 

Iklan